Emiten Arsjad Rasjid (INDY) Isyaratkan Produksi Batu Bara Flat
JAKARTA, investor.id – PT Indika Energy Tbk (INDY) mengisyaratkan produksi batu bara sampai akhir 2024 bakal cenderung flat, setelah perseroan agresif melakukan aktivitas produksi selama
beberapa bulan terakhir.
Walau demikian, emiten besutan Arsjad Rasjid tersebut tetap optimistis rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pada tahun ini yang mencapai 30,5 juta ton berjalan sesuai target.
Vice president Director & Group CEO Indika Energy Aziz Armand mengasumsikan, flatnya produksi batu bara perseroan didasarkan pada kencangnya aktivitas produksi selama beberapa
bulan terakhir.
“Jadi, (produksi) sekarang lagi ditahan-tahan. Karena bisa-bisa, para kontraktor libur di bulan Desember karena semuanya produktif. Jadi, insyallah pada 2024 ini kami akan mencapai RKAB,”
ucap Aziz dalam paparan publik, Rabu (20/11/2024).
Sementara, untuk target produksi batu bara tahun depan, Aziz menuturkan, Indika Energy akan terus melakukan eksplorasi terutama di tambang Kideco yang kini memiliki sisa cadangan batu
bara sekitar 400 juta ton.
“Kalau remaining license aja itu 2033. Jadi, kalau kami anggap sisa cadangan (Kideco) 400 juta ton dengan produksi sesuai RKAB 30,5 juta ton, maka mine life-nya 13 tahun lagi,” ujar dia.
Dengan anggapan tersebut, emiten dengan ticker saham INDY ini pun mengestimasikan produksi batu baranya bakal flat. Sambil terus, perseroan melakukan eksplorasi di daerah-daerah
konsesi yang sudah dimiliki.
“Jadi, tentu tahun depan on regular basis setiap tahun kami akan coba sesuaikan baik dari sisi pasar maupun kemampuan kontraktor, termasuk kondisi tambangnya sendiri,” imbuhnya.
Di luar bisnis batu bara, INDY juga melakukan diversifikasi bisnis di sektor emas, bauksit, dan nikel. Di bisnis emas, perseroan mempunyai portofolio PT Masmindo Dwi Area yang menambang
di tambang emas Awak Mas, Sulawesi Selatan.
Sedangkan di bisnis bauksit, perseroan melalui Mekko Mining melakukan pertambangan bauksit di Ngabang, Landak, Kalimantan Barat dengan kapasitas produksi 1 MT per tahun.
Kemudian,di bisnis nikel, INDY melalui Rockgeo Energi Nusantara menjalankan bisnis perdagangan nikel dengan volume hingga 9M24 mencapai 9.000 WMT bijih nikel.
Penulis : Muawwan Daelami
Sumber : investor.id