Kabar dari China Bikin Harga Batu Bara Susah ke Mana-mana

04 Desember 2024
Image Description

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara stagnan pada perdagangan kemarin. Si batu hitam masih kesulitan keluar dari tren negatif.

Pada Selasa (26/11/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 141/ton. Sama persis dengan hari sebelumnya.

Dalam sepekan terakhir, harga batu bara membukukan koreksi 0,53% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga berkurang 2,42%.

Apa mau dikata, batu bara memang makin ditinggalkan seiring kesadaran akan kelestarian lingkungan yang meningkat. Bahkan China, konsumen batu bara terbesar dunia, sepertinya sudah siap mengucapkan selamat tinggal kepada energi fosil tersebut.

Bloomberg News memberitakan, para ahli klimatologi di China kian yakin bahwa puncak emisi karbondioksida di negara tersebut sudah hampir mencapai puncaknya. Sebanyak 44% responden yang disurvei oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyebut puncak emisi karbon akan terjadi pada 2025.

Angka itu naik dibandingkan survei serupa tahun lalu, di mana responden yang menyatakan demikian adalah 21%. Survei tersebut melibatkan 44 ahli klimatologi di China baik dari akademisi maupun industri.

Peningkatan pembangunan pembangkit listrik bertenaga energi baru-terbarukan dinilai kian andal, makin mampu memenuhi kebutuhan. Ini membuat kebutuhan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara berkurang.

Selain itu, perlambatan ekonomi China juga mengurangi produksi semen dan baja. Dua industri tersebut dikenal sangat ‘haus’ energi.

Analisis Teknikal

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara terjebak di zona bearish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 40,64. RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Sementara indikator Stochastic RSI ada di 31,32. Menghuni area jual (long).

Oleh karena itu, rasanya harga batu bara akan sulit bergerak signifikan. Target resisten ada di rentang US$ 142-143/ton.

Sedangkan target support akan ada di kisaran US$ 140-138/ton.

Sumber : bloombergtechnoz.com

Hidayat Setiaji
27 November 2024 08:20